Kisah Perebutan Kekuasaan atas nama Buah Pala
23 August 2018

Indonesia diberkati sumber daya alam yang begitu melimpah, termasuk salah satunya rempah-rempah yang berfungsi untuk menambah cita rasa dan aroma pada masakan. Sementara di belahan dunia lainnya, rempah-rempah menjadi barang mewah dan juga barang paling diburu karena banyak manfaatnya seperti sebagai pengawet makanan dan obat-obatan.

Tak heran, di masa lalu para penjelajah dan pedagang yang datang dari Eropa berdatangan ke Nusantara dan menjadikan wilayah zamrud khatulistiwa ini sebagai daerah jajahannya.

Sebagai salah satu primadona dalam dunia rempah-rempah, pala memilki banyak sekali manfaat. Hal tersebut dikarenakan semua bagian dari tumbuhan ini bisa dimanfaatkan. Terlebih lagi, komoditas yang satu ini cukup langka karena waktu panennya yang cukup lama, yaitu sekitar 7- 9 tahun dari awal ditanam.

Seluruh bagian dari tumbuhan ini bisa dimanfaatkan mulai dari batang, daun, kulit bijinya (fuli). Serta yang paling banyak diburu adalah bijinya yang menghasilkan berbagai olahan masakan dan minyak atsiri yang dikenal memiliki harga fantastis di pasaran.

Adalah sebuah warisan tersendiri bagi negeri kita karena memiliki pala sebagai salah satu komoditi yang memiliki nilai jual tinggi dan hanya bisa tumbuh sumbur di tanah kita. Daerah penghasil pala terbesar di negeri kita ada di Banda, Maluku.

Begitu pentingnya pala saat itu, yang bahkan lebih mahal dari emas, Inggris pun mencoba merebut monopoli Belanda di Kepulauan Banda. Ia membangun markas di Pulau Run. Mati-matian Belanda dan Inggris berperang untuk menguasai perdagangan dunia. Terhitung dari tahun 1652-1654 perang pertama dilakukan dan perang kedua dimulai dari tahun 1665. Hingga akhirnya pada 31 Juli 1667, Traktat Breda dikeluarkan untuk memberi solusi damai dari perang-perang tersebut.   

Salah satu isi dari Traktat Breda adalah Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run, Kepulaun Banda, dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Manhattan, New York) diserahkan ke Inggris. Isi traktat lainnya adalah tentang pengaturan perdagangan.

Terinspirasi dari buah pala, DGD Indonesia menjadikannya sebagai salah satu desain T-Shirt yang ready to wear. Didesain sedemikian rupa yang sarat akan kekayaan alam negeri ini, ada banyak koleksi dari DGD yang Urbanites bisa miliki.

Sumber : Kompas.com & Good News from Indonesia

SHOPPING CART

CLOSE